COFFEEMATE
Cinta pada pandangan pertama terjadi
karena fisik, bukan karena hati. Ia tidak benar-benar ada seutuhnya, tapi
sebatas tampilan luar semata. Seperti halnya mengharapkan zam-zam di Gurun
Sahara. Fatamorgana.
Aku mengangguk-angguk. Masuk akal juga.
“Kamu
kenapa, Mer? Angguk-angguk kepala enggak jelas,” celetuk perempuan yang duduk
di depanku, terpisahkan oleh meja kecil tempat kami meletakkan minuman dan snack.
“Ini
nih, aku setuju dengan kalimat dalam cerpen VANOZ ini. Judulnya Bukan Fatamorgana. Intinya, cinta pada
pandangan pertama itu enggak pernah ada,” jelasku sambil menyodorkan majalah yang sedang kubaca. Ia memandang sekilas sambil mengangguk-angguk.
“Kamu
juga enggak percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu benar-benar ada?”
tanyaku memastikan arti anggukannya.
“Itu
dulu. Tapi enggak lagi. Kamu baru baca prolog hatinya saja kan? Coba baca sampai akhir. Dari judulnya
saja sudah jelas, kalau akhirnya sang protagonis itu percaya bahwa love at first sight[1]
itu bukan fatamorgana semata,” paparnya.
Aku
terkesima. “Kamu sudah baca cerpennya?” tanyaku tak percaya.
“Itu
kan majalah aku. Setiap buku atau majalah yang aku pinjamkan ke orang biasanya
sudah kubaca habis,” jelasnya sambil menyeruput moccacino hangat.
Enggak seru. Niat mau mengejutkan
dengan quote menarik, ternyata dia tahu lebih dulu.
“Kamu
suka sekali kopi ya?” tanyaku selanjutnya. Setiap mampir ke kantin, warung,
atau tempat lainnya yang menyediakan minuman, pesanan Rin selalu sama. Moccacino late. Kecuali jika sambil
makan, ia memesan air putih juga. Termasuk di sini, sebuah mini market 24 jam
yang menyediakan tiga set meja kursi untuk pembeli yang sekedar mampir untuk
membeli minuman dan melepas penat.
“Rinai?”
sapa seseorang. Aku dan Rin menoleh. Seorang perempuan berkerudung pashmina telah berdiri di samping meja
kami.
“Ya
Allah. Astri ya?” tanya Rin berusaha mengenali perempuan itu yang lalu
ditimpali dengan anggukan. Rin bangkit dari duduknya lalu bersalaman sambil cipika-cipiki
dengan Astri, sebelum akhirnya saling berpelukan.
“Sudah
berapa lama ya kita enggak bertemu? Kamu bagaimana kabarnya? Sibuk apa
sekarang?” tanya Rin antusias.
Astri
tertawa. “Kamu itu selalu saja memborong pertanyaan. Kayak lagi di kelas saja.
Aku jawab satu-satu deh. Terakhir
kita bertemu ya sehari setelah wisuda kelulusan, jadi sudah lebih dari setahun.
Alhamdulillah kabar aku baik dan
sekarang sibuk jadi istri, alias ibu rumah tangga, hihihi ….,” paparnya.
“Lho
jadi kamu sudah nikah? Kapan? Kok enggak undang-undang? Waktu nikahan aku juga
enggak datang,” tanya Rin memasang wajah cemberut.
“Maaf,
maaf. Soalnya dua hari setelah wisuda, tepatnya
sehari setelah aku dari rumah kamu, aku ada undangan wawancara kerja di luar
negeri. Jadi aku minta adikku yang mewakilkan untuk menghadiri pernikahanmu. Tapi
sebenarnya, kerjanya sih enggak jadi. Karena yang wawancara aku malah ngelamar
aku. Hihihi. Akad juga cuma dihadiri keluarga inti, terus kami langsung terbang
ke rumah suami. Resepsinya diadakan di sana,” jelas Astri.
“Di
mana resepsinya?”
“Di
Kuala Lumpur. Oh iya, ini suamiku, Hasan Sinclair,” memperkenalkan laki-laki
yang datang dari arah kasir. Wajah orientalnya menunjukkan bahwa ia blasteran
Melayu-Western.
“Astaghfirullah. Aku lupa mengenalkan
temanku juga. Kenalkan, ini rekanku di toko online,
namanya Meri.”
Aku
mendelik. Ingin rasanya mengatakan, “Akhirnya kamu ingat juga kalau aku masih
di sini, non.” Rin meringis melihat pelototanku. Suami Astri tersenyum sambil
mengangguk pada kami. Astri mengajakku bersalaman.
“Wah,
jadi toko online yang kamu rintis waktu
tingkat akhir kuliah itu masih jalan? Alhamdulillah
….,” Astri terlihat ikut senang.
“Iya,
Alhamdulillah, sekalian mengisi waktu
luang sebelum sibuk kalau diamanahi momongan,” ucap Rin tersipu.
“Ho,
lagi ‘ngisi’ ya?”
Rin
menggeleng. “Belum. Kami jarang bertemu selama setahun kemarin karena Mas Aga dinas
praktik di NTB dan baru pindah ke sini pekan lalu,” aku Rin sambil tersenyum.
“Ho,
jadi nikah setahun terasa seperti pengantin baru, dong ya?” goda Astri. “Barokallah ya, Rin. Mudah-mudahan Allah
memberi yang terbaik untukmu dan keluarga,” sambungnya lagi.
“Aamiin Allahumma aamiin, wa antuma aydhon.[2]”
“Kami
dipertemukan, berpisah, lalu bertemu kembali karena kopi. Tapi kurasa itu juga
karena do’amu waktu itu.”
“Semua
sudah ada dalam tulisan-Nya, Rin,” timpal Astri.
Rin
mengangguk.
“Daun
yang berguguran, remah kue yang dibawa semut, dan kemarau panjang, semuanya
memang sudah ada dalam tulisan-Nya. Tapi selalu ada penyebab sebelum
membicarakan akibat. Proses dan usaha yang terbaiklah yang akan menghasilkan
sesuatu yang terbaik pula,” ucap Rin dan Astri bersamaan. Keduanya pun tertawa.
Ckckck. Kompaknya.
“Aku pamit dulu ya, Rin, Meri. Tadi janjinya
ke luar sebentar ke orang tuaku dan mertua, jadi keasyikan ngobrol.
Mudah-mudahan lain kali bisa ngobrol lebih lama. Kalau kalian enggak sibuk,
main ke rumah ya,” ajak Astri. Kami mengangguk.
“Insya Allah.”
Astri
cipika-cipiki lagi dengan Rin. Kali ini denganku juga. Rin tersenyum memandang
kepergian Astri hingga mobil yang dinaiki sahabat lamanya dengan suami pergi
dari tempat parkir. Tak hanya kebahagiaan bertemu teman lama, aku menangkap
kelegaan juga di wajahnya.
“Kau
tahu filosofi tentang kopi?” tanyaku sepeninggal Astri dan suaminya.
Rin
menggeleng, ”aku belum menonton filmnya.”
“Ini
tidak ada hubungannya dengan film itu.”
“Lalu?”
“Filosofi
yang ini berbeda. Ada quotes menarik tentangnya. Ini bunyinya. Kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air
tebu. Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit
yang tak mungkin kamu sembunyikan.”
“Bukankah
quotes itu ada dalam karya Dee Lestari?” tanyanya.
“Ck.
Kamu bilang belum nonton filmnya.”
“Aku
memang belum nonton filmnya, tapi aku sudah baca bukunya. Lagipula aku memang
sering lupa judul novel yang kubaca, tapi pengarang dengan quotesnya yang
menarik tidak bisa kulupakan. Dari banyak quotes dalam novel Dee, ada tiga yang
kusuka. Salah satunya yang baru kamu sebutkan tadi. Dua lainnya kamu mau
dengar?”
Aku
terpaksa mengangguk. Menolak pun kamu
pasti akan tetap mengatakannya.
“Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia
bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkan ia dimengerti jika tak ada spasi?
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Saling menyayang bila ada ruang? Ini yang ke dua.”
Quote yang bagus. Tapi aku kok
kayak baru dengar. Apa karena enggak nonton sampai akhir? Ini pasti karena aku
sempat ketiduran di bioskop.
“Separuh jiwa yang dia pikir hilang ternyata tidak pernah ke mana-mana,
hanya berganti sisi, permainan gelap terangnya matahari dan bulan. Ini yang
ke tiga.”
Ah, aku kalah telak. Dia selalu lebih
banyak tahu daripada aku.
“Jadi,
apa jawabanmu untuk pertanyaanku tadi?” tanyaku lagi.
“Pertanyaan
yang mana?” tanya Rin sambil memandangku.
“Kenapa
kamu begitu menyukai kopi?” Kopi yang kuseduh masih panas. Aku terpaksa
menunggunya menghangat.
“Penting
ya dijawab?” tanyanya lagi memasang wajah misterius.
“Penting
dong. Kamu kan tahu aku ini orangnya kepo. Lagipula aku rasa, ada hubungannya
dengan Astri.”
Rin
menarik napas panjang lalu menghembuskannya kembali perlahan.
“Sebenarnya tidak hanya kopi. Semua inovasi
olahan kopi aku juga suka. Moccacino, Cappucino, kopi susu. Mungkin lebih tepat
jika dibilang, aku ini penyuka caffeine
yang banyak terkandung dalam kopi. “
***
“Kamu
mau bicara apa, Tri?” tanya Rin membelakangi Tri. Ia tengah menjemur seragam
wisuda dan toga yang dikenakannya kemarin. Gelar Sarjana Psikologi telah berhasil
diraihnya.
“Mengenai
Mas Aga, aku mau minta maaf,” ujar Tri pelan.
“Kamu
tidak salah. Jadi apa yang perlu dimaafkan?” tanya Rin sambil membelakangi Tri.
Pakaian di ember sudah habis. Tapi ia tidak masih di tempat, berdiri
membelakangi Tri.
“Aku
tidak ingin perpisahan kita seperti ini, Rin. Kita berteman baik-baik. Maka
berpisah pun harus baik-baik.”
“Apa
kamu anggap pertemuan ini perpisahan? Mengakhiri pertemanan?”
“Bukan
itu maksudku. Aku masih dan ingin selalu berteman denganmu. Terutama setelah
aku sadar akan satu hal. Kamu tipe orang yang rela mengalah demi sahabat.”
Rin
terdiam.
“Apa
kau puas dengan akhir yang seperti ini?” tanya Astri.
“Maksud
kamu?” Rin balik tanya.
“Kenapa
kamu tidak peka? Dia menyukaimu sejak pertama bertemu.”
“Mas
Aga? Bukankah kamu tidak percaya dengan cinta pada pandangan pertama? Seperti
halnya kamu tidak percaya bahwa aku menyukainya sejak pertama melihatnya. Lagipula
sekarang, aku sudah tidak menyukainya.”
“Itu
dulu, Rin. Sekarang aku sadar. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.
Termasuk cinta pada pandangan pertama. Ia tidak hanya mencintai sebatas fisik,
tapi lebih karena inner beauty. Ia
menyukaimu karena itu.”
“Tapi
aku …. aku tidak menyukainya, Tri,” ucap Rin menunduk.
“Aku
tahu kamu menyukainya, Rin. Sama seperti dia menyukaimu. Tapi kamu ingin
menjaga perasaanku, bukan? Aku sudah tahu semuanya. Entah kenapa aku baru
menyadarinya sekarang. Kamu berusaha memendam perasaanmu demi aku.”
“Aku
.… aku ….,” Rin memejamkan mata. Dua bulir air menetes dari sana.
Tangan
Astri menyentuh pundak Rin. Rin berbalik dan menghambur ke pelukan Astri.
“Tapi
aku sudah mengikhlaskannya, Tri. Aku sudah menolak lamarannya ke orang tuaku kemarin.
Besok, dia berangkat ke NTB,” ucap Rin sambil menumpahkan tangisnya, membuat
Tri terkejut lalu melepas pelukan Rin.
“Besok?
Tapi masih belum terlambat, Rin. Aku akan menemuinya sekarang.”
Rin
menggeleng. “Please, jangan, Tri. Aku
sudah tulus melepaskannya. Kalaupun kami memang ditakdirkan untuk berjodoh,
maka kami akan kembali dipersatukan-Nya dengan cara yang tidak siapa pun duga.”
Tri
memandang sedih sahabatnya.
“Daun
yang berguguran, remah kue yang dibawa semut, dan kemarau panjang, semuanya
memang sudah ada dalam tulisan-Nya. Tapi selalu ada penyebab sebelum
membicarakan akibat. Proses dan usaha yang terbaiklah yang akan menghasilkan
sesuatu yang terbaik pula. Daun yang menua dan angin yang bertiup kencang bisa
menjadi penyebab daun berguguran. Remah kue akan terbawa angin dan tidak menjadi
rezeki semut jika mereka bermalas-malasan. Dan pemanasan global bisa menjadi
penyebab musim hujan dan kemarau tidak bisa diprediksikan waktunya.”
Rin
kembali menunduk.
“Mas
Aga pun pasti akan menerimamu kembali jika tahu alasan penolakanmu kemarin. Aku
tidak akan memaksamu, Rin. Tapi aku selalu berharap, agar kebaikan selalu
mengiringimu. Mudah-mudahan dia jodohmu,” do’a Tri memeluk Rin kembali.
***
Aku
mengangguk-angguk mendengar cerita Rin.
“Aku
bersyukur, akhirnya ia bisa menemukan cinta pada pandangan pertamanya. Cinta
sejati yang berakhir dalam bingkai pernikahan,” ucap Rin lega.
“Rin!”
Kami menoleh. Seorang laki-laki sudah ada di samping mobil yang baru parkir
depan mini market. Ia melambaikan tangan. Rin membalas lambaian tangan
laki-laki itu.
“Kami
pertama kali bertemu di kantin kampus. Waktu itu kami memesan minuman yang sama
dan bebarengan mengucapkan pesanan kami. Kopi mocca. Lalu kami berpisah di
rumah saat ayah menyediakannya kopi. Mungkin terdengar maksa ya? Tapi intinya,
kami dipertemukan kembali di sebuah kantin rumah sakit tempat ia praktik.
Seperti pertemuan pertama, waktu itu ia juga sedang memesan kopi. Semuanya
berhubungan dengan kopi,” papar Rin sambil membenahi bawaannya.
“So sweet. Jadi karena itu kamu suka
kopi?”
“Bukan,
tapi lebih karena kandungan kafein di dalamnya. Bagus lho, sebenarnya kalau tahu takaran yang dibutuhkan tubuh kita. Ada
di buku yang kalau enggak salah, judulnya The
Miracle of Caffeine. Di sana disebutkan kalau kafein bisa bermanfaat
sebagai stimulan, untuk inteligensi, emosi positif, diet dan mencegah beberapa
penyakit,” jelas Rin.
“Nanti
aku pinjam buku yang itu ya. Sekarang tinggal aku saja yang belum nikah. Bisa
enggak ya, aku menemukan cinta pada pandangan pertamaku itu? My Coffeemate,” tanyaku pada diri
sendiri sambil menopang dagu.
“Lebih
baik kamu juga mulai serius. Jangan hanya melihat fisiknya. Apa mau aku
carikan?” tawar Rin.
“Boleh.
Memangnya ada?” tanyaku antusias.
“Belum
ada sih. Kan namanya juga baru mau bantu cari.”
“Hmmm,
enggak usah, deh. Aku ikhtiar sendiri
dulu. memperbaiki diri dulu supaya jodohku juga baik. Oke, see you tomorrow[3]
ya. Kayaknya Dokter Sinaga sudah enggak sabar tuh,” goda Meri.
Rin
tersenyum. Ia lalu berpamitan padaku. Sepeninggal Rin, aku menghabiskan kopi
dan membuang wadahnya ke tempat sampah, lalu bergegas kembali mencari ke
rak-rak yang memajang minuman. Ada satu barang lagi yang perlu kubeli.
“Tambah
ini saja, mbak.”
Aku
terkejut. Mbak-mbak di balik kasir pun sama, terkejut sekaligus bingung. Dua
pembeli di hadapannya mengucapkan kalimat yang sama dan menyodorkan barang yang
sama. Kopi Cappucino instan ukuran
500 gram. Laki-laki itu tersenyum. Aku pun menunduk sambil menahan senyum.
Mungkinkah aku juga seperti Rin,
dipertemukan dengan jodoh oleh-Nya melalui kopi?
***
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar