SURAT
KALENG
Olin membuka buku
Biologi di hadapannya. Membolak-balik halaman hingga dilihatnya kertas yang
terselip di sela-selanya.
Teruntuk
Olin si Alim Taekwondoin, Kristin si Penyuka Shopping, dan Sesilia si Maniak
Kartun.
Ternyata
di sekolah ini masih ada saja geng-gengan dalam berteman.
Olin geram. Ingin
rasanya ia menyeramahi si pengirim. Bahwa persahabatan dirinya dengan Lia dan
Kristin bukanlah geng-gengan. Mereka juga akrab dengan teman lain.
“Pengirimnya mungkin pengunjung
perpus hari ini. Mau coba tanya?” usul Kristin. Olin dan Lia mengangguk.
“Maaf
Mbak, boleh lihat buku pengunjungnya?”
Mbak
Detty, petugas perpus, mengangguk sambil mengangsurkan buku pengunjung.
“Kalian
cari siapa?” tanya Mbak Detty penasaran.
“Oh!
Itu mbak. Kami sedang mencari Ensiklopedi Semut. Apa udah ada yang pinjam?” Kristin
balik bertanya.
“Yang
di rak tandon?”
Kristin
mengangguk.
“Coba
dicari lagi. Buku-buku di rak tandon itu tidak boleh dibawa pulang. Lagipula saat
istirahat pertama tadi, banyak yang masuk perpustakaan. Beberapa siswa tidak mengisi
buku pengunjung”
Kristin
menepuk jidatnya.
“Kalau
begitu, kita cari lagi saja. Barangkali terselip,” ajak Olin.
“Sorry deh sorry,” bisik Kristin melihat delikan mata Lia.
“Asal ngomong
saja sih,” gerutu Lia.
“Kamu nyindir aku? Aku kan udah minta maaf,” nada bicara Kris mulai meninggi. Beberapa pengunjung perpus memperhatikan mereka. Olin mengajak keduanya duduk.
“Kamu nyindir aku? Aku kan udah minta maaf,” nada bicara Kris mulai meninggi. Beberapa pengunjung perpus memperhatikan mereka. Olin mengajak keduanya duduk.
“Tenang, di situasi
kayak gini, kita harus berpikir dengan kepala dingin. Insya Allah, kita bisa
menemukan pengirimnya,” ujar Olin www.alimuakhir.com
Masih saling lirik, Lia
dan Kristin berusaha menenangkan diri. Tak jauh dari mereka, seorang gadis tersenyum.
Ternyata
kalian sudah membaca surat itu.
Malamnya, Olin
menghubungi kedua sohibnya melalui Whatsapp. Menceritakan rencana besok untuk
mencari si pengirim surat kaleng. Keduanya sepakat.
“Maaf teman-teman, berhubung UKK sebentar
lagi, tolong tulis biodata untuk album kenangan. Isinya nama, te-te-el, alamat
lengkap, nomor hp, plus motto hidup,” ucap Kristin di depan kelas.
“Apa
saja, Kris? Pelan-pelan dong jelasinnya,” sahut Satria.
“Udah,
tidak perlu diingat kok, Sat. Form-nya
udah ada. Istirahat nanti dibagikan Olin.”
“Oooh
…. Sip,” Satria manggut-manggut.
Kalian
pikir, aku tidak tahu rencana kalian? Aku bisa mengubah gaya tulisanku kapan
saja. Sebagaimanapun kerasnya kalian berusaha, bukan hal mudah menemukanku.
“Oh iya. Aku
pernah lihat buku grafologi lho di perpus,” bisik Lia.
“Di
rak mana?” tanya Kristin cepat.
“Tenang,
bukan di rak tandon, kok. Jadi bisa dipinjam.”
“Oke,
istirahat ke dua kita ke sana,” putus Olin.
Siang
itu Lia dan Kristin duduk melingkar di teras rumah Olin.
“Aduh,
lama-lama mumet juga. Kamu paham Li?” tanya Kristin.
“Sedikit.”
Kristin
sumringah, “Ternyata kamu tidak jago baca komik doang,” sambungnya.
“Itu
pujian atau sindiran?” gerutu Lia sambil melanjutkan bacaannya, buku Kumpulan
Materi Panduan Terarah
Kimia SMA/SMK terbitan Kaifa. Sementara itu, Olin tengah membaca salah satu
laman website menggunakan wifi dari
modem smartfren 4G Lte. Mencari tahu lebih dalam tentang grafologi lewat
internet. Selanjutnya mereka mulai menggabungkan
analisa dan mengerucutkan tersangka. Diani, Aldi, dan Pita.
“Kok
Pita?” Olin agak keberatan karena teman sekelas sekaligus rekan taekwondo-nya
itu dijadikan tersangka.
“Kita
harus objektif dong, Lin,” protes Kris.
Olin
terdiam. “Bukannya Diani? Anak pindahan semester kemarin?” gumamnya.
“Aku
yakin Aldi pelakunya. Dia juga pindahan tahun lalu,” ujar Kristin.
“Kuantitas
hubungan tidak bisa dijadikan jaminan. Jelas-jelas goresan huruf t-nya Pita ini
mirip dengan yang di surat kaleng,” timpal Lia tak mau kalah.
“Oke,
karena sama-sama bersikeras, kita lanjutkan penyelidikan sesuai dengan suspect yang kita curigai. Aku mengawasi
Diani, Kristin-Aldi, dan Lia-Pita. Kita cari tahu tempat tinggal dan keseharian
mereka. Mungkin itu bisa membantu penyelidikan kita.”
Semua
sepakat.
“Kamu
sakit, Ian?” tanya Olin melihat wajah pucat Diana, temannya serohis. Mereka
tengah memasang artikel di mading masjid siang itu. Diana menggeleng.
“Punya
mag? Atau anemia?” tanya Olin lagi.
“Aku
tidak ada riwayat mag atau anemia. Entah kenapa, Aakhir-akhir ini perut bagian
kiri sering sakit. Aku pulang duluan saja ya, Lin.”
Olin
mengangguk, “mau kuantar?” tawarnya.
Diana
tersenyum, “kayak sakit apa saja. Insya Allah masih kuat, jazakillah khoyr tawarannya. Assalaamu’alaykum ….”
“Wa’alaykumsalaam
warohmatullah ….”
Diana makin mirip saja dengan orang
itu,
batin Olin.
Esok
paginya, Bu Siti mengadakan ulangan Matematika dadakan.
“Kumpulkan
semua buku di meja ibu. Jangan ada alat tulis lain selain pulpen dan alas. Buku
catatan dan latihan pun akan dinilai untuk membantu nilai ulangan.”
“Aduh,”
terdengar keluhan beberapa siswa yang jarang mencatat dan mengerjakan tugas.
Melihat
tumpukan buku di meja Bu Siti, Olin tercenung. Lalu samar-samar, senyumnya
merekah. Terlintas sebuah rencana di kepalanya. Rencana yang sama, namun ia
yakin akan mendapatkan hasil yang berbeda.
Di
rumah Olin, Lia dan Kristin tercengang melihat scan tulisan di ponsel Olin.
Tidak diragukan lagi. Tulisan itu sama persis dengan tulisan dalam surat
kaleng. Pagi tadi, saat siswa lain bergegas ke luar kelas untuk menyegarkan
otak usai ulangan, Olin menawarkan diri membantu Bu Siti membawa buku siswa ke
ruang guru. Saat itulah ia berhasil mengambil foto tulisan Diani, Aldi, dan
Pita. Kristin dan Lia telah lebih dulu ke kantin.
“Jadi
ini tempat tinggalnya?” tanya Kristin memastikan. Mereka baru turun dari
angkot. Di hadapan mereka berdiri bangunan bertingkat menyerupai asrama dengan
halaman yang cukup luas. Sebuah plang dipasang di balik pagar depan. Panti
Asuhan al-Ikhlas.
“Ayo
kita labrak,” ujar Kristin.
“Sabar,
jangan pakai emosi, Kris,” cegah Olin.
“Meski
penasaran, aku setuju dengan pendapat Olin. Kayaknya dia bukan sekedar iseng
deh nulis surat kaleng itu. Semula kukira dia anak orang kaya.”
“Memang
iya, Li. Sebelum kedua orang tuanya meninggal tujuh bulan lalu. Ayahnya sering
pindah kerja. Jadi hampir tiap semester pindah sekolah. Dia juga sering sakit-sakitan,”
jelas Olin. Mereka tidak bicara lagi. Karena pagarnya sudah terbuka, mereka memutuskan
masuk lalu mengetuk pintu.
“Akhirnya kalian
menemukanku. Lumayan juga usaha kalian,” Olin cs tidak menyadari seseorang yang
sudah berada di halaman.
Diani!
"Mengenai surat
kaleng itu, aku minta maaf kalau kalian merasa terganggu karenanya. Mulanya aku
hanya iseng dan ingin membuangnya. Tapi kalian terlanjur membacanya. Jujur, aku
belum pernah punya teman dekat dan merasa iri dengan persahabatan kalian. Meski
banyak perbedaan, kalian tetap solid,” ujarnya sambil memegangi perut.
“Enak saja,” sergah
Olin.
Lia dan Kristin terkejut.
“Kamu pikir, semuanya bisa
selesai hanya dengan kata maaf?”
Lia dan Kristin makin
ternganga. Tidak biasanya Olin semarah itu. Bukannya
tadi kamu yang minta aku untuk sabar, Lin?, batin Kristin.
“Aku benar-benar menyesal.
Andai aku masih memiliki cukup waktu, mungkin aku bisa menebus kesalahanku
hingga kalian puas.”
“Kamu pikir, kamu bisa
lari dari masalah dan menganggap bahwa besok tidak bisa melihat dunia lagi? Berhenti
dari pencarian saudara kembarmu lalu menyerah pada nasib yang kau gantungkan
pada kedua ginjalmu?” air mulai menggenang di kedua mata Olin.
Kini tak hanya Lia dan
Kristin yang terkejut. “Kenapa kamu bisa tahu?” tanya Diani perlahan.
“Kami sudah tahu
semuanya,” nada suara Olin mulai melunak.
Untuk ke sekian kalinya,
Lia dan Kristin saling pandang. Seakan ingin protes bahwa mereka sama sekali
tidak tahu apa yang Olin bicarakan.
“Kamu tidak ingin
bertemu denganku, Kak Diani?” terdengar sebuah suara yang disusul dengan
munculnya seorang gadis sebaya mereka.
“Diana?!” seru Lia dan
Kristin serempak.
Olin mengangguk. “Ya,
Diana adalah adik kembar Diani.”
Bruk!!!
Diani jatuh. Beruntung
Diana sigap menangkap sehingga kepala kakaknya tidak membentur tanah.
“Alhamdulillah. Terima
kasih, Lin, Lia, Kris …,” gumam Diani sebelum pingsan.
Malam itu juga, Diana
mendonorkan ginjalnya untuk Diani. Alhamdulillah, operasi mereka berjalan
lancar. Meski keduanya kini hidup dengan satu ginjal, Diani tidak kesepian
lagi.
Esok harinya di
sekolah, Lia dan Kristin melakukan aksi mendiamkan Olin.
“Kalian masih ngambek
ya?” tanya Olin.
“Kemarin itu kita kayak
orang bodoh ya, Li?” ujar Kristin.
“Iya,” sahut Lia, cemberut.
“Maaf, maaf. Karena belum
yakin, aku tidak cerita. Tapi setelah melihat kondisi Diani, aku jadi yakin. Alasan
Diani sering absen, di mana tempat tinggalnya, dan latar belakang keluarganya.
Lagipula Diana dan Diani itu memang mirip.”
“Tidak. Namanya iya
mirip,” ucap Kristin.
“Bukan kembar identik sih,”
sahut Lia lagi.
“Aku malah lihat persamaan
keduanya sejak perkenalan Diani di depan kelas. Senyum dengan lesung pipitnya
mirip Diana. Saat upacara bendera Senin kemarin juga, Diana dan Diani mundur
dari barisan bebarengan. Masuk UKS karena sakit.”
“Hanya karena itu?”
tanya Kristin.
”Tulisan mereka juga mengandung
misteri, luka, sekaligus rahasia. Menurut petunjuk grafologi, yang dilihat dari
huruf-huruf zona tengah, ketidakteraturan baris tulisan, arah tulisan mencekung,
ukuran huruf yang kecil dan miring ke kiri, penekanan di awal, sambungan huruf
menyudut dan hampir tidak saling bersambung, konsistensi tulisan, serta lebar
tulisan yang tarikan atas dan bawahnya saling berdekatan, dua-duanya setipe,”
papar Olin.
“Semuanya mengarah pada
sosok introvert, depresi, dan suka
menyembunyikan masalah. Tapi menurut aku, grafologi belum bisa dijadikan
patokan utama untuk menilai karakter dan pribadi seseorang,” ujar Olin lagi.
“Marvelous! Olin jago grafologi!” seru Lia, “terjemahkan tulisanku juga
dong, Lin. Agar aku tahu karir yang tepat untuk aku itu seperti apa. Ngambil
jurusan apa kalau kuliah nanti,” pintanya.
“Itu sih bukan
grafologi, tapi uji potensi lewat sidik jari,” timpal Kristin.
Olin tersenyum.
“Aku juga deh, Lin,”
ujar Kristin.
“Kamu kok ikut-ikutan
Lia sih, Kris?”
Olin berlari menghindar
dari kejaran Lia dan Kristin. Senyumnya terkembang mengingat pesan yang dikirim
Diani ke ponselnya tadi pagi.
Esok
memang bukanlah waktu yang pasti bisa menjadi milik kita.
Tapi
dengan adanya hari esok, kita memiliki kekuatan untuk tidak berhenti dalam berusaha
dan berharap.
Berusaha
untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dari hari ini.
Dan
berharap hasil dari usaha itu sesuai dengan tujuan kita.



Judul dan ceritanya menarik. Tapi ...
BalasHapusSeperti ada yang hilang. Betul nggak?
Huaaa . . .
HapusIya, ktahuan ya, kak?
Sebenarnya cerpen ini dibuat sebulan yg lalu. Tp krn hasil akhirny lbh dr 1.500 kata (alias jd cerpan) dan kpanjangn, jd dianggurin. Eh, pas mau digarap lg udh jatuh tempo aja (deadline mksudny). Mdh-mudhn pmbaca yg lain ngga sadar ^_^
Bbrp part hrus dihapus deh, mdh-mdhn jg msh nyambung critanya. Trmksh Kak Vi, sdh mampir di blog saya.Jgn bosan ya . . . . :-D
Hapus