Selasa, 15 Maret 2016

CERPEN



SURAT KALENG

Olin membuka buku Biologi di hadapannya. Membolak-balik halaman hingga dilihatnya kertas yang terselip di sela-selanya.

Teruntuk Olin si Alim Taekwondoin, Kristin si Penyuka Shopping, dan Sesilia si Maniak Kartun.

Ternyata di sekolah ini masih ada saja geng-gengan dalam berteman.

Olin geram. Ingin rasanya ia menyeramahi si pengirim. Bahwa persahabatan dirinya dengan Lia dan Kristin bukanlah geng-gengan. Mereka juga akrab dengan teman lain.
“Pengirimnya mungkin pengunjung perpus hari ini. Mau coba tanya?” usul Kristin. Olin dan Lia mengangguk.
“Maaf Mbak, boleh lihat buku pengunjungnya?”
Mbak Detty, petugas perpus, mengangguk sambil mengangsurkan buku pengunjung.
“Kalian cari siapa?” tanya Mbak Detty penasaran.
“Oh! Itu mbak. Kami sedang mencari Ensiklopedi Semut. Apa udah ada yang pinjam?” Kristin balik bertanya.
“Yang di rak tandon?”
Kristin mengangguk.
“Coba dicari lagi. Buku-buku di rak tandon itu tidak boleh dibawa pulang. Lagipula saat istirahat pertama tadi, banyak yang masuk perpustakaan. Beberapa siswa tidak mengisi buku pengunjung”
           Kristin menepuk jidatnya.
           “Kalau begitu, kita cari lagi saja. Barangkali terselip,” ajak Olin.
           “Sorry deh sorry,” bisik Kristin melihat delikan mata Lia.
           “Asal ngomong saja sih,” gerutu Lia.
       “Kamu nyindir aku? Aku kan udah minta maaf,” nada bicara Kris mulai meninggi. Beberapa pengunjung perpus memperhatikan mereka. Olin mengajak keduanya duduk.
“Tenang, di situasi kayak gini, kita harus berpikir dengan kepala dingin. Insya Allah, kita bisa menemukan pengirimnya,” ujar Olin www.alimuakhir.com
Masih saling lirik, Lia dan Kristin berusaha menenangkan diri. Tak jauh dari mereka, seorang gadis tersenyum.
Ternyata kalian sudah membaca surat itu.
Malamnya, Olin menghubungi kedua sohibnya melalui Whatsapp. Menceritakan rencana besok untuk mencari si pengirim surat kaleng. Keduanya sepakat.
 “Maaf teman-teman, berhubung UKK sebentar lagi, tolong tulis biodata untuk album kenangan. Isinya nama, te-te-el, alamat lengkap, nomor hp, plus motto hidup,” ucap Kristin di depan kelas.
“Apa saja, Kris? Pelan-pelan dong jelasinnya,” sahut Satria.
“Udah, tidak perlu diingat kok, Sat. Form-nya udah ada. Istirahat nanti dibagikan Olin.”
“Oooh …. Sip,” Satria manggut-manggut.
Kalian pikir, aku tidak tahu rencana kalian? Aku bisa mengubah gaya tulisanku kapan saja. Sebagaimanapun kerasnya kalian berusaha, bukan hal mudah menemukanku.
            “Oh iya. Aku pernah lihat buku grafologi lho di perpus,” bisik Lia.
            “Di rak mana?” tanya Kristin cepat.
            “Tenang, bukan di rak tandon, kok. Jadi bisa dipinjam.”
            “Oke, istirahat ke dua kita ke sana,” putus Olin.
Siang itu Lia dan Kristin duduk melingkar di teras rumah Olin.
“Aduh, lama-lama mumet juga. Kamu paham Li?” tanya Kristin.
“Sedikit.”
Kristin sumringah, “Ternyata kamu tidak jago baca komik doang,” sambungnya.
“Itu pujian atau sindiran?” gerutu Lia sambil melanjutkan bacaannya, buku Kumpulan Materi Panduan Terarah Kimia SMA/SMK terbitan Kaifa. Sementara itu, Olin tengah membaca salah satu laman website menggunakan wifi dari modem smartfren 4G Lte. Mencari tahu lebih dalam tentang grafologi lewat internet. Selanjutnya mereka mulai menggabungkan analisa dan mengerucutkan tersangka. Diani, Aldi, dan Pita.
“Kok Pita?” Olin agak keberatan karena teman sekelas sekaligus rekan taekwondo-nya itu dijadikan tersangka.
“Kita harus objektif dong, Lin,” protes Kris.
Olin terdiam. “Bukannya Diani? Anak pindahan semester kemarin?” gumamnya.
“Aku yakin Aldi pelakunya. Dia juga pindahan tahun lalu,” ujar Kristin.
“Kuantitas hubungan tidak bisa dijadikan jaminan. Jelas-jelas goresan huruf t-nya Pita ini mirip dengan yang di surat kaleng,” timpal Lia tak mau kalah.
“Oke, karena sama-sama bersikeras, kita lanjutkan penyelidikan sesuai dengan suspect yang kita curigai. Aku mengawasi Diani, Kristin-Aldi, dan Lia-Pita. Kita cari tahu tempat tinggal dan keseharian mereka. Mungkin itu bisa membantu penyelidikan kita.”
Semua sepakat.
“Kamu sakit, Ian?” tanya Olin melihat wajah pucat Diana, temannya serohis. Mereka tengah memasang artikel di mading masjid siang itu. Diana menggeleng.
“Punya mag? Atau anemia?” tanya Olin lagi.
“Aku tidak ada riwayat mag atau anemia. Entah kenapa, Aakhir-akhir ini perut bagian kiri sering sakit. Aku pulang duluan saja ya, Lin.”
Olin mengangguk, “mau kuantar?” tawarnya.
Diana tersenyum, “kayak sakit apa saja. Insya Allah masih kuat, jazakillah khoyr tawarannya. Assalaamu’alaykum ….”
“Wa’alaykumsalaam warohmatullah ….”
Diana makin mirip saja dengan orang itu, batin Olin.
Esok paginya, Bu Siti mengadakan ulangan Matematika dadakan.
“Kumpulkan semua buku di meja ibu. Jangan ada alat tulis lain selain pulpen dan alas. Buku catatan dan latihan pun akan dinilai untuk membantu nilai ulangan.”
“Aduh,” terdengar keluhan beberapa siswa yang jarang mencatat dan mengerjakan tugas.
Melihat tumpukan buku di meja Bu Siti, Olin tercenung. Lalu samar-samar, senyumnya merekah. Terlintas sebuah rencana di kepalanya. Rencana yang sama, namun ia yakin akan mendapatkan hasil yang berbeda.
Di rumah Olin, Lia dan Kristin tercengang melihat scan tulisan di ponsel Olin. Tidak diragukan lagi. Tulisan itu sama persis dengan tulisan dalam surat kaleng. Pagi tadi, saat siswa lain bergegas ke luar kelas untuk menyegarkan otak usai ulangan, Olin menawarkan diri membantu Bu Siti membawa buku siswa ke ruang guru. Saat itulah ia berhasil mengambil foto tulisan Diani, Aldi, dan Pita. Kristin dan Lia telah lebih dulu ke kantin.
“Jadi ini tempat tinggalnya?” tanya Kristin memastikan. Mereka baru turun dari angkot. Di hadapan mereka berdiri bangunan bertingkat menyerupai asrama dengan halaman yang cukup luas. Sebuah plang dipasang di balik pagar depan. Panti Asuhan al-Ikhlas.
“Ayo kita labrak,” ujar Kristin.
“Sabar, jangan pakai emosi, Kris,” cegah Olin.
“Meski penasaran, aku setuju dengan pendapat Olin. Kayaknya dia bukan sekedar iseng deh nulis surat kaleng itu. Semula kukira dia anak orang kaya.”
“Memang iya, Li. Sebelum kedua orang tuanya meninggal tujuh bulan lalu. Ayahnya sering pindah kerja. Jadi hampir tiap semester pindah sekolah. Dia juga sering sakit-sakitan,” jelas Olin. Mereka tidak bicara lagi. Karena pagarnya sudah terbuka, mereka memutuskan masuk lalu mengetuk pintu.
“Akhirnya kalian menemukanku. Lumayan juga usaha kalian,” Olin cs tidak menyadari seseorang yang sudah berada di halaman.
Diani!
"Mengenai surat kaleng itu, aku minta maaf kalau kalian merasa terganggu karenanya. Mulanya aku hanya iseng dan ingin membuangnya. Tapi kalian terlanjur membacanya. Jujur, aku belum pernah punya teman dekat dan merasa iri dengan persahabatan kalian. Meski banyak perbedaan, kalian tetap solid,” ujarnya sambil memegangi perut.
“Enak saja,” sergah Olin.
Lia dan Kristin terkejut.
“Kamu pikir, semuanya bisa selesai hanya dengan kata maaf?”
Lia dan Kristin makin ternganga. Tidak biasanya Olin semarah itu. Bukannya tadi kamu yang minta aku untuk sabar, Lin?, batin Kristin.
“Aku benar-benar menyesal. Andai aku masih memiliki cukup waktu, mungkin aku bisa menebus kesalahanku hingga kalian puas.”
“Kamu pikir, kamu bisa lari dari masalah dan menganggap bahwa besok tidak bisa melihat dunia lagi? Berhenti dari pencarian saudara kembarmu lalu menyerah pada nasib yang kau gantungkan pada kedua ginjalmu?” air mulai menggenang di kedua mata Olin.
Kini tak hanya Lia dan Kristin yang terkejut. “Kenapa kamu bisa tahu?” tanya Diani perlahan.
“Kami sudah tahu semuanya,” nada suara Olin mulai melunak.
Untuk ke sekian kalinya, Lia dan Kristin saling pandang. Seakan ingin protes bahwa mereka sama sekali tidak tahu apa yang Olin bicarakan.
“Kamu tidak ingin bertemu denganku, Kak Diani?” terdengar sebuah suara yang disusul dengan munculnya seorang gadis sebaya mereka.
“Diana?!” seru Lia dan Kristin serempak.
Olin mengangguk. “Ya, Diana adalah adik kembar Diani.”
Bruk!!!
Diani jatuh. Beruntung Diana sigap menangkap sehingga kepala kakaknya tidak membentur tanah.
“Alhamdulillah. Terima kasih, Lin, Lia, Kris …,” gumam Diani sebelum pingsan.
Malam itu juga, Diana mendonorkan ginjalnya untuk Diani. Alhamdulillah, operasi mereka berjalan lancar. Meski keduanya kini hidup dengan satu ginjal, Diani tidak kesepian lagi.
Esok harinya di sekolah, Lia dan Kristin melakukan aksi mendiamkan Olin.
“Kalian masih ngambek ya?” tanya Olin.
“Kemarin itu kita kayak orang bodoh ya, Li?” ujar Kristin.
“Iya,” sahut Lia, cemberut.
“Maaf, maaf. Karena belum yakin, aku tidak cerita. Tapi setelah melihat kondisi Diani, aku jadi yakin. Alasan Diani sering absen, di mana tempat tinggalnya, dan latar belakang keluarganya. Lagipula Diana dan Diani itu memang mirip.”
“Tidak. Namanya iya mirip,” ucap Kristin.
“Bukan kembar identik sih,” sahut Lia lagi.
“Aku malah lihat persamaan keduanya sejak perkenalan Diani di depan kelas. Senyum dengan lesung pipitnya mirip Diana. Saat upacara bendera Senin kemarin juga, Diana dan Diani mundur dari barisan bebarengan. Masuk UKS karena sakit.”
“Hanya karena itu?” tanya Kristin.
”Tulisan mereka juga mengandung misteri, luka, sekaligus rahasia. Menurut petunjuk grafologi, yang dilihat dari huruf-huruf zona tengah, ketidakteraturan baris tulisan, arah tulisan mencekung, ukuran huruf yang kecil dan miring ke kiri, penekanan di awal, sambungan huruf menyudut dan hampir tidak saling bersambung, konsistensi tulisan, serta lebar tulisan yang tarikan atas dan bawahnya saling berdekatan, dua-duanya setipe,” papar Olin.
“Semuanya mengarah pada sosok introvert, depresi, dan suka menyembunyikan masalah. Tapi menurut aku, grafologi belum bisa dijadikan patokan utama untuk menilai karakter dan pribadi seseorang,” ujar Olin lagi.
Marvelous! Olin jago grafologi!” seru Lia, “terjemahkan tulisanku juga dong, Lin. Agar aku tahu karir yang tepat untuk aku itu seperti apa. Ngambil jurusan apa kalau kuliah nanti,” pintanya.
“Itu sih bukan grafologi, tapi uji potensi lewat sidik jari,” timpal Kristin.
Olin tersenyum.
“Aku juga deh, Lin,” ujar Kristin.
“Kamu kok ikut-ikutan Lia sih, Kris?”
Olin berlari menghindar dari kejaran Lia dan Kristin. Senyumnya terkembang mengingat pesan yang dikirim Diani ke ponselnya tadi pagi.

Esok memang bukanlah waktu yang pasti bisa menjadi milik kita.
Tapi dengan adanya hari esok, kita memiliki kekuatan untuk tidak berhenti dalam berusaha dan berharap.
Berusaha untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dari hari ini.
Dan berharap hasil dari usaha itu sesuai dengan tujuan kita.







3 komentar:

  1. Judul dan ceritanya menarik. Tapi ...
    Seperti ada yang hilang. Betul nggak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huaaa . . .
      Iya, ktahuan ya, kak?
      Sebenarnya cerpen ini dibuat sebulan yg lalu. Tp krn hasil akhirny lbh dr 1.500 kata (alias jd cerpan) dan kpanjangn, jd dianggurin. Eh, pas mau digarap lg udh jatuh tempo aja (deadline mksudny). Mdh-mudhn pmbaca yg lain ngga sadar ^_^

      Hapus
    2. Bbrp part hrus dihapus deh, mdh-mdhn jg msh nyambung critanya. Trmksh Kak Vi, sdh mampir di blog saya.Jgn bosan ya . . . . :-D

      Hapus